Pertengahan siang kali itu serasa senyap dan hening. Hari Senin 26 Desember 2011, saya mendapatkan berita bahwa salah satu guru saya sewaktu SLTP meninggal dunia. Beliau adalah Pak Ira. Pak Ira adalah guru seni rupa di SLTP N 2 Wates. Beliau adalah guru seni rupa sekaligus guru moral paling menakjubkan yang pernah mengajar saya.
Ira adalah nama populer beliau. Julukan dari nama asli Isnaryana itu pun menyisakan keelokan tersendiri dalam memori saya. Pertama kali bertemu beliau, beliau bercerita tentang namanya itu. Dengan lagak serius lagi renyahnya, beliau menceritakan bahwa keahlian dasar beliau adalah menggambar. Suatu saat beliau mencintai seorang putri dan hendak menikahinya. Ayah beliau pun ragu dengan keinginan anaknya. “Anak istrimu kelak mau kamu kasih kerikil?”, begitu pertanyaan sang ayah. Beliau pun termotivasi untuk menunjukkan bahwa bakatnya itu mampu mengentaskan hidupnya. Beliau mulai menyalurkan karya seninya ke radio lokal. Karya-karya dengan inisial Ira itu pun dikenal banyak orang.
Saya masih sangat ingat bagaimana Pak Ira kemudian mengenal saya. Kala itu perintah pertama beliau adalah: “Silakan gambar apapun. Sekarang!”. Saya pun menggambar pemandangan alam tetapi dengan teknik pewarnaan yang saat itu belum lazim di lingkungan saya. Saya menggunakan pastel empuk yang yang mengguratkan kilau-kilau aneh. Kilau-kilau itu begitu hidup ketika mengisi warna lautan yang saya gambar. Pohon berbatang silver yang saya buat pun menambah aneh gambar saya. Beliau pun mulai memutari kelas. Sampailah beliau di meja saya. Beliau berhenti agak lama, mengamati, terdiam, dan berkata: “Suka menggambar ya?”. Itu adalah pertanyaan pembuka yang akhirnya membuat saya begitu dekat dengan Pak Ira.
Saya merasa diangkat sebagai anak oleh Pak Ira. Pak Ira selalu mengajak saya ketika ada perlombaan menggambar. Beliau juga mengajak anak kandungnya. Pertemuan sekaligus duel dengan anaknya itulah yang begitu menyentak kesadaran saya bahwa dunia gambar ternyata telah melesat begitu jauh. Pak Ira telah menurunkan ke-superior-an seninya kepada anaknya.
Salah satu karya saya yang saya abadikan adalah gambar Gus Dur. Bagi saya, coretan tangan saya kali itu sungguh sempurna dibanding komunitas kala itu. Namun, nilai yang diberikan Pak Ira kepada saya tak menyentuh angka 10. Satu point yang beliau sampaikan kepada saya adalah tentang masih kurang persisnya salah satu bagian wajah Gus Dur.
Karya saya yang lain yang juga tak memperoleh nilai sempurna oleh beliau dibingkai dan dipajang di aula pintu masuk SLTP. Di sebelah karya saya tersebut ada karya beliau ketika menggambar abstrak dengan guliran tinta tak terkontrol. Beliau menerangkan proses rumit pembuatannya. Silakan dibayangkan, gambar abstrak tersebut dibuat dengan cara memuatkan tinta ke selang kecil kemudian ditiupkan sekencang-kencangnya ke kertas. Tumbukan dan percikan antara peluru tinta dengan kertas menciptakan pola yang sulit ditiru dengan goresan terencana.
Kini, Pak Ira telah berpulang. Ijinkan saya menyampaikan kata penutup saya untuk Pak Ira.
“Pak Ira, ananda begitu kagum. Pak Ira begitu cekatan, sungguh berbakat, dan betapa menguasai pilihannya. Ananda ingin suatu saat dapat reuni kembali di sekolah. Ananda ingin sekali mengenang kelas-kelas yang Pak Ira berikan. Namun, Allah berkehendak lain. Pak Ira dipanggil sebelum keinginan itu terwujud. Selamat jalan Pak Ira. Doa ananda senantiasa mengantarmu. Maafkan ananda yang tak ikut mengantar Bapak sampai peristirahatan terakhir. Semoga Allah akan selalu menjaga Pak Ira dan anak-istri yang ditinggalkan. Selamat jalan…”



GooglePlus
Twitter
LinkedIn
Ikut berduka cita
Selamat jalan pak Ira, semoga anda tenang di sisi NYA, amin
FridiGraph recently posted..Film Jepang Gantz (2011)
Thanks Fridi… Amiin amiin amiin.