Sembilan belas Februari adalah salah satu hari spesial dalam hidup saya. Sembilan belas Februari pada beberapa tahun meninggalkan kesan yang luar biasa. Kesan-kesan serius sampai kesan konyol ketika memulai kehidupan baru dengan wanita pilihan saya. Bagi Anda yang memiliki waktu lebih silakan lanjutkan membaca. Bagi yang jadwalnya padat, silakan memutuskan.
19 Februari 2011 saya menikahi drh. Wilis Ariyana Septi
19 Februari 2010 hari saya wisuda sarjana
19 Februari 2005 saya ikut simulasi Ujian Masuk UGM
[Simulasi Ujian Masuk UGM]
Saya ingat bahwa tanggal 19 Februari sekitar 7 tahun lalu saya ikut simulasi Ujian Masuk UGM. Ingatan saya tersebut dibantu oleh selembar brosur Lembaga Pendidikan Primagama yang tertumpuk dalam arsip di meja belajar saya. Primagama adalah penyelenggara simulasi Ujian Masuk UGM kala itu. Ada kisah menarik dari simulasi tersebut. Kisah tersebut ikut mengarahkan hidup saya sekarang.
Saya mendapatkan rincian program studi yang diselenggarakan UGM setelah ujian simulasi tersebut selesai. Daftar program studi tersebut kemudian saya bawa pulang. Sesampainya di rumah, saya konsultasi dengan paman tentang program studi yang tercantum banyak di selembar kertas mirip buram tersebut. Saya memilih berkonsultasi dengan paman karena beliau adalah salah satu orang terdekat yang saya kategorikan sukses berkarir. Beliau kala itu masih aktif di BAPPEDA Provinsi Jawa Tengah.
Saya ingat betul paman melingkari beberapa program studi lengkap beserta nomor urutan prioritasnya. Saya protes waktu itu. Kenapa program studi yang tidak pernah saya dengar malah diberi nomor teratas. Program-program studi yang sedang panas-panasnya diincar orang malah diberi angka belakang.
“Kenapa malah Kartografi dan Penginderaan Jauh yang diberi nomor urut pertama?”, protes saya. Saya tak habis pikir. Paman saja lulusan Pertanian. Kenapa paman memilihkan program studi yang jauh dari kehidupannya. Begitu pikir saya.
“Program studi ini prospektif! Pakde -begitu beliau memanggil dirinya sendiri- kalau ada proyek selalu bekerja dengan orang-orang dari program studi ini. Mereka menguasai pekerjaan dan medan.”, papar paman dengan singkat, padat, dan tegas.
Kini, saya merasakan apa yang dipilih paman. Kata-kata bahwa program studi tersebut prospektif telah mengantarkan saya pada banyak pengalaman. Satu hal yang harus selalu disyukuri, program studi tersebut membuka banyak kesempatan untuk mendapatkan materi. Hehehe. Materialistik mode ON.
[Wisuda Sarjana]
Akhirnya saya kuliah di program studi Kartografi dan Penginderaan Jauh. Hitungan masa studinya pun terbilang tidak wajar untuk spesialisasi yang saya ambil. Kuliah di program studi itu biasanya lama. Saya tidak bohong. Dan ada momok pada program studi tersebut: penginderaan jauh radar. Penginderaan jauh dapat dipahami mengindera sesuatu (bumi) dari jauh (angkasa). Obyek yang diindera terlebih dahulu direkam membentuk gambar (foto udara/citra satelit). Anda tentu terbiasa mengamati gambar dengan mata. Iya kan? Hal yang sama juga terjadi pada interpreter (sebutan analis foto udara/citra satelit). Mereka juga terbiasa melihat menggunakan kemampuan mata. Nah, radar itu berbeda konsep meskipun tetap dalam konteks penginderaan jauh.
Radar adalah kependekan dari Radio Detection and Ranging. Apa yang ditangkap dari kata tersebut? Radio! Penginderaan jauh radar mengindera obyek tidak dengan gelombang yang di-familiar-i mata manusia. Penginderaan jauh radar mengindera menggunakan gelombang radio/gelombang suara. Silakan dibayangkan bagaimana cara melihat sesuatu dengan gelombang seperti itu. Atau silakan dibayangkan apakah bisa melihat sesuatu menggunakan telinga? Hal-hal yang “sulit” diterima angan-angan tersebut lah yang membuat penginderaan jauh radar momok. Silakan bongkar arsip penelitian/skripsi/tesis/disertasi di fakultas saya. Kalau perlu, bongkar semua arsip di universitas atau lembaga-lembaga yang menaungi praktisi/profesional bidang penginderaan jauh. Saya yakin Anda tidak akan menemukan banyak referensi/hasil. Sedikit sekali yang mendalami penginderaan jauh radar di Indonesia. Padahal, penginderaan jauh radar adalah sistem yang cocok untuk daerah tropik (sering ada awan).
Saya tidak pernah peduli dengan masukan rekan kuliah bahwa pilihan saya meneliti radar adalah pilihan bunuh diri. Saya tidak peduli dengan riwayat senior yang terkatung-katung penelitiannya karena kehabisan energi. Saya yakin saya bisa menyelesaikan pilihan saya. Dan saya penuhi keyakinan tersebut. September 2009 saya mengajukan skripsi lewat seminar terbuka. Januari 2010 skripsi saya telah ditandatangani 4 dosen penguji. Di angkatan saya, saya lulus urutan kelima. More


GooglePlus
Twitter
LinkedIn