“Saya kan belum memiliki pekerjaan, saya belum saatnya memiliki NPWP”, kira-kira begitulah statement yang saya kumpulkan dari beberapa rekan saya dulu.
NPWP atau Nomor Pokok Wajib Pajak pada dasarnya sekedar nomor yang diberikan kepada para Wajib Pajak untuk memperlancar administrasi urusan perpajakan. Wajib Pajak di Indonesia adalah rakyat Indonesia. Sebab, konsep pajak sendiri adalah mengena untuk semua warga negara dimulai pada usia tertentu. Artinya, tidak ada suatu keharusan bahwa NPWP hanya untuk yang sudah bekerja (berpenghasilan).
Saya memiliki cerita unik tentang NPWP ini. Inisiatif saya mungkin masuk kategori terlalu tinggi. Saya sudah membuat NPWP saat saya masih berada di dunia kampus (belum bekerja). Lalu apa yang akan dipajaki? Jawabannya tentu tidak ada. Penghasilan saja belum punya. Jadi nilai pajak saya minus alias saya tidak perlu membayar kewajiban pajak tersebut. Negaralah yang membayari pajak orang-orang minus seperti saya.
Fungsi NPWP itu penting bagi pencari kerja (jobseekers). Lowongan-lowongan pekerjaan kini umumnya mensyaratkan NPWP untuk lamaran pendaftarannya. Khusus mengenai NPWP dan jobseekers ini saya punya cerita menarik juga. Rekan saya diminta melampirkan NPWP pada lamarannya. Nah, yang dia lampirkan bukanlah NPWP miliknya. Namun, NPWP orangtuanya! Berkas lamaran tersebut pun langsung ditolak alias gugur sebelum bertanding. Ketika saya tanya kepada rekan saya dan orangtuanya kenapa NPWP yang dilampirkan bukan milik dia (pelamar) maka jawabannya juga sama dengan statement di paragraf awal.
NPWP saya pertama kali statusnya sebagai Pekerja Swasta. Status saya pada kenyataannya berubah menjadi Pegawai Negeri. Nah, inilah cerita unik lanjutannya. Sesuai dengan ketentuan maka saya cukup update status NPWP dari Pegawai Swasta menjadi Pegawai Negeri (tanpa menerbitkan NPWP baru). Saya pun lapor ke koordinator pegawai baru bahwa saya sudah memiliki NPWP jadi tidak perlu dikoordinir untuk membuat NPWP baru. Ternyata, saya dibuatkan NPWP baru! Febrio Sapta Widyatmaka pada database Ditjen Pajak menjadi 2 personal: Pegawai Swasta dan Pegawai Negeri.
Situasi menjadi tidak menguntungkan. Memang saat ini pun penghasilan saya masih tergolong rendah sehingga besaran pajaknya masih nol. Jadi jikapun harus membayar pajak untuk dua NPWP tidak masalah. Tetapi bagaimana nasibnya nanti ketika penghasilan bertambah. Orang lain hanya cukup membayar pajak untuk satu saja NPWP, saya malah dua NPWP. Akhirnya saya menempuh solusi penghapusan NPWP lama (Pegawai Swasta).
Tindakan saya mengajukan penghapusan NPWP ternyata tidak sederhana. Saya malah tersangkut ketentuan di UU Nomor 28 Tahun 2007. Tiga petugas pajak datang ke rumah saya mengadakan pemeriksaan. Golongan kepangkatan mereka pun tidak rendah: III/d dan III/c. Artinya yang menangani pemeriksaan tersebut bukanlah pegawai baru. Dan kasus penghapusan ini bukanlah hal yang remeh.
Pemeriksaan selesai tetapi awal Maret 2012 kemarin muncul masalah lagi. Saya hendak menyetor SPT ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama. Aplikasi rekan-rekan sekantor saya diterima cepat. Giliran aplikasi SPT saya, ditolak. Alasannya ada dua nama Febrio Sapta Widyatmaka dengan dua NPWP tetapi alamat sama. Saya diwajibkan membuktikan mana NPWP yang berlaku. Saya pun ingat salinan surat perintah pemeriksaan beberapa bulan lalu. Hari berikutnya saya lengkapi SPT dengan salinan surat pemeriksaan tersebut dan beres!
Inilah Surat Tanda Terima SPT Tahunan terbaru saya
Ada kabar bahagia! Ditjen Pajak mulai memberlakukan pelayanan setor pajak online. Jadi Wajib Pajak cukup isi SPT online dan mengirimnya online juga. Wajib Pajak yang menginginkan model setor SPT seperti ini dapat meminta Electronic Filing Identification Number (e-FIN). Permintaan dapat ditujukan kepada Kantor Pelayanan Pajak Pratama. Jadi penyetoran SPT nantinya tidak perlu harus meluangkan waktu agak banyak untuk datang ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama dan antre. Cukup setor SPT dari rumah atau kantor masing-masing. Syaratnya ada komputer dan koneksi internet. Dunia makin mudah yak!







GooglePlus
Twitter
LinkedIn
saya mau tanya, saya uda bayar 1 tahun SPPT, terus saya isi SPT. nah ternyata saya minus , kalo begini gimana ya ??? kan seharusnya saya nggak bayar ???
kalo bole saya mau tanya, saya uda bayar terus saya isi spt ternyata minus,
nah gimana cara bayar buat tahun selannjutnya karena seharusnya saya enggak bayar NPWP.??
alhamdulillah….
saya sudah lapor mas…
ma ksh infonya
Terimakasih kembali, Ma.
saya jg punya NPWP mas.. padahal saya udah g bekerja.. dl saya buat karena kantor saya dl mengharuskan tp cm bertahan 3 bulan trus keluar dan jadi blogger mpe skarang…
bingung jg apa yg harus di laporkan utk SPT ya..
klo bs online lbh enak mas..
Yang dilaporkan penghasilan dari blognya aja, Mas. Tapi jangan dink. Entar DJP jadi tau kalau ternyata blog bisa untuk cari duit. Kasihan yang tidak punya usaha di blog, bisa ikutan kena getahnya nanti kalau DJP memberlakukan peraturan bahwa blogger harus bayar pajak.
Iya Mas, enak ada online.
aku ga ngerti masalah begini mas hehe., ma’lum katro
ikut nyimak aja aah eheh
Kalau begitu ijin menyimak diberikan. Hehehe.
penjelasan yang sangat tepaaat. .
aku baru kenal dengan baru kenal dengan e-FIN. . .
Sy juga baru kenal e-FIN kemarin. Setelah dijelasin ma petugasnya.
Terimakasih.
hhmmmm…..untung dah punya, tapi dah tgl segini saya belum lapor SPT lho..
thanks udah diingetin…
Masih ada beberapa pekan lagi untuk setor SPT Tahunan koq, Mas. Terimakasih kembali.
wah…saya belum punya nih, cuma ayah aming aja yang punya,
maklum ibu rumah tangga…
Ibu rumah tangga mengikut suaminya saja tidak apa-apa.
infonya bagus mas
saya blum punya npwp, jadi pengen..dan dengar-dengar kalau mau keluar negeri jadi lebih mudah ya
maaf berkunjung dini hari
Wah sepertinya apa yang didenger-denger itu memang benar. Koq sudah ada 2 tamu mengatakan hal yang sama.
Silakan berkunjung dini hari.
biasanya pakai biaya administrasi brapa tuh mas? he he buat siap-siap, siapa tau ndak sampai 200rb biayanya, jadi bisa cepat-cepat ngurus
Biaya administrasi seingat sy tidak ada. Cuma isi formulir aja ma bawa KTP koq Mas.
Jadi pengen punya NPWP, tapi gimana caranya? hehehe.
setau saya, kalau udah punya NPWP mau ke sekitar asia tenggara ini gag usah bayar visa ya? bener gag?
Cara paling mudah ya datang ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama terdekat, trus isi formulir. Kalau tidak paham dengan formulirnya, di kantor tersebut pasti ada petugas yang siap membantu kita memahami bagaimana isiannya.
Kalau untuk yang visa gratis, sy malah belum tau.
kalau blogger gini ngurus NPWPnya ribet apa ndak ya? yang jelas penghasilan sich masih belum ada (belum pasti dapetnya)
Mudah koq Mas ngurus NPWP. Isi formulir trus diserahin ke petugas loket. Tunggu beberapa menit nanti NPWP dan kartunya jadi. Penghasilan mau pasti atau tidak, tidak masalah urus NPWP. Selain mengantisipasi diri sebagai warga negara yang baik, juga untuk persiapan siapa tahu dibutuhkan di pekerjaan nantinya.
Kebetulan sampai saat ini, khususnya PPH masih ditanggung oleh instansi tempat bekerja, dan baru tanggal satu maret kemaren memegang NPWP sendiri.
Sy malah tidak mendapatkan kebetulan itu, Pak. Jadi harus ngurus ini itu sendiri.