Harian Pribadi FEBRIOSW

Peminat hal sosial, politik "kekacauan", dan universalitas.

December 21st, 2010

FREEPORT SERTA BEDA PENEMUAN KEPURBAKALAAN DAN KEEKSOTISAN

Catatan, Gagasan, Refleksi, by Febrio Sapta Widyatmaka.

Saya baru saja membaca berita di KOMPAS tentang penemuan air terjun terbesar di suatu tempat di Indonesia. Air terjun dengan ketinggian sekitar 100 meter dan lebar 20 meter diklaim sebagai yang terbesar di Kota Pagaralam, Sumatera Selatan. Sekelebat terpikir dalam benak saya kenapa penemuan itu baru terjadi sekarang? Sekedar karena lokasinya yang berada di medan berat kah (hutan lebat, angker, dan sebagainya)?

Saya ingin bercerita dan lebih tepatnya berbagi cerita. Pembaca sangat disarankan untuk menanggapi. Termasuk bertanya balik: “Lah, kalau memang seperti itu kenapa Mas ga lakuin dari dulu sebelum ditemukan orang lain?”. Baiklah, begini ceritanya.

Keterkesimaan saya tadi bukan dalam rangka takjub. Namun, kaget kenapa baru ditemukan sekarang. Pada cerita kali ini, saya membagi penemuan menjadi 2 ruang: penemuan kepurbakalaan dan penemuan keeksotisan. Penemuan kepurbakalaan adalah penemuan benda-benda berharga peninggalan masa lalu khususnya yang berada di bawah permukaan tanah. Penemuan kepurbakalaan contoh paling seringnya adalah penemuan fosil. Sedangkan penemuan keeksotisan yang saya maksud adalah penemuan guratan alam yang eksotik. Alam bagi saya adalah rangkaian guratan lukisan yang unik di setiap tempatnya. Ada gunung, ada danau, ada sungai, ada perbukitan lipatan, dan sebagainya (termasuk air terjun). Jika dipandangi dari angkasa maka alam ini seperti guratan lukisan.

Kedua penemuan tersebut tidak sama! Boleh jadi usaha untuk menemukannya dimulai dari sesuatu yang sama yaitu analisis. Namun, cara menemukannya berbeda. Penemuan kepurbakalaan lebih sukar dibanding dengan penemuan keeksotisan. Benda-benda purbakala -khususnya fosil- ukurannya tidak begitu besar. Kesulitan ditambah dengan keberadaannya yang berada di bawah permukaan tanah. Namun, fitur-fitur alam yang eksotik umumnya berukuran besar. Air terjun yang baru saja ditemukan di Pagaralam tadi contohnya, dimensinya besar sekali (dibanding dengan dimensi makhluk rata-rata). Lantas, kenapa saya harus kaget?

satellite febriosw Nasa earth observatories dailykos.com  FREEPORT SERTA BEDA PENEMUAN KEPURBAKALAAN DAN KEEKSOTISAN

Teknologi inventarisasi kebumian telah berkembang pesat! Ingat Freeport kan? Lokasi tambang Freeport itu juga berada di medan yang berat. Bayangkan: Papua! Papua penuh dengan hutan dan medan yang berat. Pesawat saja sering hilang di sana. Bagaimana Amerika (negara lain) bisa menemukan ladang surga di pedalaman Papua? Saya meyakini itu sebagai salah satu tonggak keberhasilan teknologi inventarisasi Amerika. Meskipun di situs resminya diungkap itu sebagai buah ekspedisi (klik di sini untuk membacanya), saya masih berkeyakinan ada udang di balik bakwan itu. Maksudnya, jikapun itu ada ekspedisi maka saya meyakini ada teknologi inventarisasi yang bekerja sebelum ekspedisi tersebut. Earth Resources Observation Satellites Program -misalnya- dideklarasikan tahun 1966. Hanya terpaut 6 tahun lebih lama dengan ekspedisi Freeport tahun 1960. Boleh saja saya berpikir lebih picik dari biasanya dengan berpraduga atas Amerika. Amerika mengumumkan satelit penginderaan jauh-nya tahun 1966. Sangat mungkin mereka telah berpuluh tahun sebelumnya mengoperasikan satelit itu: membuat, menguji, dan memanfaatkan. Ketika mereka menemukan celah atau bahkan memang telah melahirkan teknologi baru, teknologi sebelumnya kemudian di-share dan diumumkan ke publik sebagai sebuah permulaan sandiwara. Artinya (sebenarnya) penemuan Freeport didasari oleh suatu data intelijen kebumian yang diperoleh salah satu atau bahkan lebih satelit Amerika. Kita kembali ke topik air terjun!

Penemuan air terjun dan obyek wisata lain seharusnya lebih mudah (kini). Penemuan tidak lagi mengandalkan jasa penjelajah alam atau ekspedisi tetapi bisa dengan analisis berbasis satelit penginderaan jauh. Mari kita bayangkan untuk kasus air terjun ini.

  1. Air terjun bisa terjadi karena ada ketimpangan ketinggian yang besar ketika air mengalir di sungai. Jika tidak ada ketimpangan ketinggian maka fenomena terjun itu tidak akan ada. Yang ada hanya sebatas mengalir. Maka kita dapatkan satu penanda atau parameter untuk mendeteksi lokasi yang berpotensial terdapat air terjun. Lokasi tersebut adalah pada tebing-tebing terjal (biasanya berupa gawir). Pencarian penanda atau parameter untuk mendefinisikan mana lokasi yang berpotensial dapat dengan analisis peta topografi atau model elevasi. Keduanya sama-sama merupakan hasil turunan dari kegiatan sensor satelit penginderaan jauh. Kedua data tersebut telah tersedia di Indonesia bahkan beberapa juga gratis. Artinya tahap ini bukan menjadi kendala inventarisasi.
  2. Sesuai yang saya ungkap di point pertama, air terjun diawali dengan fenomena aliran berupa aliran sungai. Kita dapatkan penanda atau parameter kedua yaitu sungai atau aliran! Loh bukannya sungai di hutan lebat tidak tampak karena saking lebatnya dedaunan di atasnya? Betul bahwa dedaunan di hutan lebat berpotensi menutup permukaan (wajah) sungai. Namun, tentu ada hal untuk mengatasinya. Tidak mungkin ilmu dan pengetahuan penginderaan jauh membahana (khususnya di negara maju) jika masalah seperti ini saja tidak terpecahkan. Material tanah dan air memberikan respon spektral yang berbeda pada sensor satelit penginderaan jauh. Kedua materi tadi dapat dibedakan dengan permainan formula pengolahan citra (satelit) digital. Lagi-lagi, tahapan ini bukan menjadi kendala inventarisasi.

So, sebenarnya obyek-obyek wisata seperti itu dapat ditemukan tanpa harus menunggu ekspedisi! Yang dibutuhkan adalah komitmen instansi yang bertugas menginventarisasi wisatanya.

Saya yakin akan ada pertanyaan balik mencecar saya. Misal seperti ini:

  • Kalau memang begitu, kenapa Mas Rio tidak melakukannya?
  • Berarti dapat dilakukan dengan mudah di Google Earth?
  • Bla bla bla.

Saya akan jawab pada postingan selanjutnya jika memang diperlukan (oleh teman-teman) untuk didiskusikan. Ok.

Sumber gambar: dailykos.com

 FREEPORT SERTA BEDA PENEMUAN KEPURBAKALAAN DAN KEEKSOTISAN Febrio Sapta Widyatmaka (241 Posts)

Febrio Sapta Widyatmaka adalah seorang periset geospasial, blogger, sekaligus pejalan birokrasi Indonesia. Hidup bahagia beristri seorang dokter hewan dan anak yang lucu nan pintar. :)

Website FREEPORT SERTA BEDA PENEMUAN KEPURBAKALAAN DAN KEEKSOTISANFacebook FREEPORT SERTA BEDA PENEMUAN KEPURBAKALAAN DAN KEEKSOTISANTwitter FREEPORT SERTA BEDA PENEMUAN KEPURBAKALAAN DAN KEEKSOTISANGoogle Plus FREEPORT SERTA BEDA PENEMUAN KEPURBAKALAAN DAN KEEKSOTISANLinkedin FREEPORT SERTA BEDA PENEMUAN KEPURBAKALAAN DAN KEEKSOTISANYahoo IM FREEPORT SERTA BEDA PENEMUAN KEPURBAKALAAN DAN KEEKSOTISAN

Back Top

51 comments on “FREEPORT SERTA BEDA PENEMUAN KEPURBAKALAAN DAN KEEKSOTISAN

  1. m-amin on said:

    Hari gini masa ada tempat yang tidak dapat diketahui oleh umum, tempat yang dirahasiakan saja mudah sekali terbongkar. Alam di dimensi x pun masih saja dapat dilihat.

  2. lyna riyanto on said:

    Jika memang benar maka itu adalah keuntungan bagi Amerika, karena memiliki teknologi yg lebih tinggi, walaupun bukan berarti mereka bisa dengan mudah mengambil dan mengklaimnya karena belum ada yg mengakuinya meskipun didahului dengan dalih hasil ekspedisi.

    tentang air terjun itu, mungkin yg membuatnya jadi membingungkan adalah pemakaian kata “ditemukan” saya yakin sebelum ini keberadaan air terjun tsb sudah diketahui tetapi oleh pihak yg berwenang belum secara resmi mengakui dan akhirnya disyahkan sebagai sebuah obyek indah dan eksotis yg menjadi kekayaan alam.

    • febriosw on said:

      Penambangan tersebut tentunya bukan semata buah dari klaim. Tapi hasil negosiasi dengan pemerintah yang kemudian dilandasi hukum.

      Saya juga sepakat dengan hal ini. Beberapa hari lalu saya kepikiran kenapa ada orang mengklaim telah menemukan Benua Amerika. Padahal benua tersebut besar. Sangat mungkin sebelum penemuan versinya itu, benua tersebut telah ada penghuninya. Hanya saja penghuninya tidak punya “hasrat” untuk memberi nama tempat tinggalnya itu. :)

  3. komuter on said:

    iya ya.. kok baru ketemu sekarang ya..
    .
    *ikutan mikir

  4. luthfie fadhillah on said:

    ijin komentar dulu…

    takut … lupa isi komentar…

    ^_________^
    (orang yang baik adalah orang yang selalu memberi komentar)

  5. bundalf on said:

    waah topiknya cukup berat. sebelum ada yang nanya udah tanya ke diri sendiri ya mas?
    tapi, kalau memang bisa menginventaris kawasan wisata dengan teknologi, dan bisa dilakukan secara independen, lakukan saja mas…

    Btw. ini kunjungan balik mas.

  6. penguin on said:

    anda sebagai lulusan terbaik disalah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia..coba Anda berantusias dan berambisi untuk menggebrak dunia minimal di Indonesia dengan ilmu yang Anda miliki, kembangkanlah. Menurut saya Anda bisa melakukannya walau sambil ngesot ngesot…
    okeh…Bro…
    jangan cuman menganalisis aja kalo bisa yow,,,
    tapi saya tetap acungkan Jempol sepuluh deh,,,Gue akuin Lu Oke bgt Kang,
    Tep semangat tuk tetap ber ide membuat Tulisan yang keren-keren…

  7. Dwi on said:

    agak aneh memang mas, seharusnya sudah dari dulu air terjun terbesar ini ditemukan. apalagi ini kan termasuk penemuan keeksotisan. saya tunggu ulasan berikutnya mas. selamat tahun baru..

    • febriosw on said:

      Tuh kan, aneh kan kalau ketemunya baru sekarang. Bendanya besar dan ada di alam terbuka, udah jaman pesawat beterbangan pula. Aneh jika hal yang seperti itu bisa tersembunyi. Lebih tepatnya aneh penemuan benda seperti itu lama.

  8. mursid on said:

    wah mantep bener nih mas ulasannya..
    jadi tau…

  9. gak kuliah gak kiamat on said:

    salam kenal aja mas :D

  10. MUXLIMO on said:

    Info menarik nih.. nambah wawasan jadinya… :)
    Konon, katanya ladang emas terbesar di dunia alias freeport itu juga bisa dideteksi dari sisi geologi. Di sana sebelumnya kan ada tambang timah/tembaga juga. Teorinya, setelah timah itu biasanya emas.

    sayang sekali… alm. soeharto menggadaikan harta negeri ini untuk bangsa lain.. ;_|

    • febriosw on said:

      Konon begitu. pemanfaatan satelit untuk kasus seperti itu memang dengan pendekatan geologinya. Misal tambang yang dikaji maka informasi dari satelit yang dianalisis berkisar antara sebaran gunung, tingkat usia gunung (dilihat dari seberapa kuat erosi yang terjadi di badan gunungnya), termasuk model gunung itu sendiri. Model tersebut digunakan untuk merunut asam atau basakah materialnya. Nah, nanti diturut-turut bisa ketemu ternyata di sini dimungkinkan ada tambang apa, di sana ada apa.

      Namun, bisa juga bukan gunung. Gundukan-gundukan yang ada di bumi menginformasikan banyak hal perihal isi di bawahnya loh. Dulu sy sempat diajar oleh dosen yang senior di bidang penginderaan jauh untuk geologi. Di antara teman seangkatan, boleh jadi sy yang beruntung, sy sempat juga menimba ilmu di lapangannya. Teman-teman kala itu belum mengambil mata kuliah dan praktikum itu hingga beliau tidak lagi mengajar.

  11. Erdien on said:

    Asyik nieh ilmunya!

  12. Mama-nya Kinan on said:

    Waduh berat nieh topiknya….btw negara kita punya nggak semua perlengkapan untuk inventory tsb, seperti yang amrik punya…????

    • febriosw on said:

      Seandainya pun kita tak memiliki, komitmen negara maju membuka kesempatan lebar bagi negara yang belum memiliki satelit penginderaan jauh untuk memanfaatkan data mereka. Kabar gembiranya, saat ini lembaga antariksanya Indonesia telah meluncurkan satelit pilot project. Satelit tersebut sudah siap disusul dengan satelit berikutnya. Untuk penguasaan teknologi pembuatan satelit memang kita masih tertinggal. Namun, untuk penguasaan pemanfaatan teknologi (ground segmen), ahli-ahli dari Indonesia sudah diakui di tingkat internasional. :)

  13. jangrkrik on said:

    mantap untuk baca-baca ni kawan,makasih dan berbagi :D

  14. wien on said:

    instansinya tentu Dinas Pariwisata donk….aihihihii….ikut komeng aja mas Rio :D

    • febriosw on said:

      Hehehe. Lebih khususnya kementeriannya. Karena yang punya anggaran dan wewenang lebih besar adalah pusat. Kalau memang niat, tentu bisa dilaksanakan secara kelembagaan.

  15. Ferdinand on said:

    Met Pagi Sob…

    hemm… tapi aku mau tanya dulu Sob.. yg bener di Sumatra Barat apa selatan nie? soalnya diparagraf pertama aku bingung dari selatan tau2 ke barat hhe…

    dan untuk air terjunnya aku juga setuju, kayanya buat nemuin gituan gak perlu pake segala ekspedisi deh.. para pecinta alam juga bisa nemuin gituan tiba2 hhe….

    kayanya emank bisa dari Google Earth hhe… aku nunggu jawabannya aja deh deh

    • febriosw on said:

      Pagi juga Sob! :)

      Coba di CTRL+F trus diketik “barat”. Sy tidak menemukan kata barat di paragraf sy tuh. Atau di paragraf mana maksudnya?

      Kalau nunggu penemuan tiba-tiba pecinta alam, keburu diklaim negara lain ntar Sob! Nanti kayak kasus Indonesia-Malaysia lagi. Main klaim-klaiman. Intinya kan tidak terinventarisasinya kekayaan alam dengan baik. Ada pulau didiemin, dicatat juga tidak. Akhirnya dicatat negara lain. Hehehehe.

  16. Om Adi | SatuBlog.Us on said:

    Wah panjang banget nih artikelnya.
    Tapi memang untuk di indonesia, kita ketahui sendiri lah bagaimana keseriusan pemerintah dalam mengurus negeri ini.
    Bahkan untuk pulau saja masih banyak yang tanpa nama.
    Yah kita tunggu saja gimana tindakan nyata dari instansi terkait.
    he….

    • febriosw on said:

      Iya Om, mau diringkas takutnya malah membuat idenya makin terasing. Sebab kalau diringkas pasti butuh istilah-istilah asli yang malah bikin posting-an ini bak tulisan alien. Hehehehe.

  17. Teras Info on said:

    memang seperti itulah pemerintahan di negeri kita….menunggu…menunggu dan menunggu….kadang komitmennya kurang…he..he..

    • febriosw on said:

      Kadang juga mereka belum tahu bahwa dunia sudah berputar lebih banyak dibanding sepengetahuan mereka. Hehehehe.

  18. Bay on said:

    Maaf sebenarnya saya agak ga ngerti teknologi geografi.Ikut komen aja ya mas :D

  19. Galuh Ristyanto on said:

    Bahasannya terlalu berat buat aku mas. Tapi tak apa akan kucoba untuk mengomentari.
    Sejak teknologi Google Earth ada, banyak hal baru yang ditemukan. Seperti beberapa tahun yang lalu ditemukannya suatu ladang yang bentuknya aneh mirip sebuah simbol, desa di Amazon yang sudah punah (klo tidak salah) yang ternyata sistem pertaniannya maju, dll.
    Semua memang tidak lepas dengan dukungan teknologi.
    Maaf mas klo komentarnya rada gak nyambung, hehehehe…..

    • febriosw on said:

      Padahal komentarnya nyambung koq, Mas! Sebetulnya Google Earth sama sekali tidak mengembangkan teknologi antariksanya. Ia hanya menyajikan data yang diperoleh dari buah kerjasama dengan beberapa pusat antariksa seperti NASA. Dari pengertian tersebut dapat ditarik perkiraan bahwa penemuan-penemuan yang sering digembor-gemborkan oleh penikmat Google Earth boleh jadi beberapa tahun sebelumnya sudah menjadi arsip penelitian sebenarnya.
      Penemuan di Google Earth terbatas pada penemuan yang tampak mata. Kita tak bisa lihat lebih jauh kan? Semisal pernah ada penelitian sistem tata air Majapahit. Saluran-saluran air yang dulu ada di Majapahit telah terkubur tanah baru dan ketika direkam dengan sensor kamera biasa (sensor yang bekerja mirip dengan prinsip mata) tidak akan terlihat. Namun, dengan sensor lain yang bekerja dengan cara “meraba” termal (panas) atau dengan gelombang inframerah, saluran-saluran yang sudah tak tampak mata (terkubur di dalam tanah) tadi dapat dipetakan. Peneliti Indonesia telah mampu melakukan itu. Peneliti negara maju tentu lebih jauh lagi.
      Intinya sy sepakat bahwa Google Earth memang dapat membantu orang awam untuk menemukan ini-itu. Namun, terbatas bagaimana karakter obyeknya. :) Dan pada kasus air terjun ini, Google Earth kesulitan mendeteksi sungai yang tertutup lebatnya pepohonan hutan. Kecuali jika sungainya lebar-lebar seperti di Amazon, Jerman, dan sebagainya.

      • Galuh Ristyanto on said:

        Hwaaaa…… Balesannya panjang banget mas. Setuju aja deh ma masnya yang ahli dibidang geografis. Klo soal Google Earth yang bisa mencitrakan objek dalam laut, menurut mas?

        • febriosw on said:

          Lagi-lagi Google Earth-nya sebenarnya tidak bisa mencitrakan. :D Kedalaman laut bisa juga dimodelkan. Pada prinsipnya, sensor menghitung ketinggiannya (jarak sensor dan permukaan dasar laut/permukaan bumi). Untuk di daratan, biasanya menggunakan gelombang radio (radar) dan laser. Untuk di lautan (perairan), seringnya menggunakan gelombang suara juga dengan metode yang lebih dikenal sebagai echosounding. Namun, kini teknologi tersebut dikembangkan. Sensor tidak lagi ditempatkan di badan kapal tetapi di satelit yang menggantung ratusan bahkan ribuan kilometer di atas sana.

          Ada satu lagi teknik memetakan fenomena 3D, yaitu dengan metode stereoskopis. Prinsipnya sama dengan anagliph. Tetapi gelombang-gelombang cahaya (yang menghasilkan foto konvensional yang dapat kita lihat) tidak mampu menembus air. Sama posisinya dengan kita yang tak mampu melihat dasar laut/sungai dengan mata telanjang. Oleh karenanya metode stereoskopis ini hanya difokuskan untuk pemetaan daratan.

          Kalau ada waktu silakan kunjungi blog lain sy (meski tidak terurus) di http://garasipeta.wordpress.com/2010/06/14/memetakan-kedalaman-danau/. Terimakasih.

  20. freebies on said:

    maaf OOT : saya kalau mau comment kok waktu loading untuk menyimpan komentnnya lama ya mas?

    • febriosw on said:

      Haduh,,, loading muter-muter lokal atau global? (Malah bahasanya geografi banget) Maksud sy, loading seluruh page atau hanya pas isi komen yang dikirim? Tapi masuk kan? Kira-kira berapa menit? Atau detik?

  21. tomi on said:

    cek koment.. ternyata bener ada jumlah nya :D
    mantabbbs mas

  22. penguin on said:

    khusus commentator spt saya,,mohon dapat diberikan secara lgsg kesimpulan dari yang punya Blog ini terhadap tulisannya,,via Replay saja..
    terimakasih harap maklum,

    • febriosw on said:

      Baiklah kalau begitu.
      Pertama, sudah ada instansi yang berwenang mengurusi ini. Masalahnya sekedar mereka mau melakukannya atau tidak. Hehehehehe.
      Kedua, mencari temuan keeksotisan via Google Earth (khususnya air terjun) agak sulit. Khususnya di tahapan kedua. Sebab gambar yang disajikan tidak dapat lagi diolah secara khusus agar sungainya terlihat menonjol. :D

Leave a Reply

Your email address will not be published.

5,910 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] kaskus emoticons nartzco

View in: Mobile | Standard