Harian Pribadi FEBRIOSW

Peminat hal sosial, politik "kekacauan", dan universalitas.

February 4th, 2012

BEKAL NIKAH

Catatan, Refleksi, Tips, by Febrio Sapta Widyatmaka.

Banyak rekan yang sering bertanya tentang lika-liku perjalanan cinta mereka. Ada yang bertanya bagaimana meluluhkan hati lelaki pujaannya. Para hawa menanyakan hal seperti itu kepada saya lebih sering dibanding titisan adam menanyakan hal sebaliknya. Kadang rekan bertanya juga apakah sosok di samping mereka adalah jodoh mereka. Beberapa rekan juga rela study tour ke kos saya sekedar sharing apakah mereka sudah layak menikah. Namun, hal yang paling menarik bagi saya adalah jika pertanyaannya seputar sosok seperti apa yang perjalanan cantik mendapatkan pendamping. Alasan pertama karena saya bukan paranormal cinta. Alasan kedua, meskipun kriteria “cantik” itu relatif, parameter penilaian mendekati universal. Perspektif yang saya anut pun tentu perspektif hidup yang beberapa disarikan dari pengalaman. Di usia sebayanya, boleh jadi saya termasuk laki-laki yang menikah awal. Wajar jika banyak pertanyaan masuk.

Saya akan mengurai tulisan saya ke dalam empat pokok pikiran sebagai berikut:

  1. Jajaki Pasangan Sebelum Memutuskan Lanjut
  2. Laki-laki Sebaiknya Memiliki Pekerjaan Mapan
  3. Komposisi Pasangan Ideal
  4. Menikah dengan Sekedarnya

Cekidot selengkapnya!

Jajaki Pasangan Sebelum Memutuskan Lanjut

Saya terkesima, di tengah riuhnya era berpacaran akut ternyata masih ada lelaki yang memutuskan menikah dengan wanita yang belum dikenalnya. Berpacaran akut adalah proses penjajakan yang lama atas pasangan mereka. Satu point yang sebaiknya diingat bahwa penjajakan yang baik adalah penjajakan yang tidak meninggalkan jejak. Silakan ditafsirkan makna “jejak” tersebut.

Penjajakan pasangan penting perannya untuk meminimalisir kekecewaan di masa berikutnya (memulai pernikahan). Saya mendapati kisah nyata menarik. Lelaki yang tidak memanfaatkan kesempatan penjajakan pasangan menjadi galau ketika mendekati hari pernikahan. Pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya pun banyak sekali: apakah calon istrinya pelit, apakah calon istrinya mengidap suatu penyakit, apakah betisnya halus, apakah rambutnya lurus, bagaimana riwayat hidupnya, mengidap penyakitkah, sampai apakah dia berasal dari keluarga yang baik. Pertanyaan itu semakin mengembang dan meruncing ketika tampak sosok pembanding (wanita) yang memikat di depannya. Pernikahan yang seharusnya disambut dengan tenang dan mantap pun terjadi sebaliknya. Ia tidak mantap dengan pernikahan yang ia rencanakan.

Seseorang sebaiknya melakukan penjajakan dulu terhadap pasangannya. Penjajakan itu utamanya menyangkut bibit, bobot, dan bebetnya. Penjajakan bukan kemudian dilancarkan dengan model pergaulan bebas. Toh, kalau masalah “itu” sebenarnya tidak jauh beda antara satu orang dengan orang lain. Sehingga, hal seperti “itu” tidak perlu “dicoba” sebelum menikah atau bahkan sebagai syarat memutuskan mau menikah atau tidak.

Laki-laki Sebaiknya Memiliki Pekerjaan Mapan

Menikah mendatangkan rejeki? Benar. Namun, perlu diperhatikan bahwa rejeki itu tidak lantas turun dari langit layaknya hujan. Rejeki itu tetap harus dijemput dengan usaha. Dan rejeki itu macamnya banyak. Rejeki bisa berupa kesehatan, dapat berujud keselamatan, bukan hanya uang atau materi.

Menikah adalah gerbang ke-kompleks-an hidup. Pasangan yang telah menikah wajib bisa berbaur dengan masyarakat, bersosialisasi aktif, mengelola masalah sendiri, dan insyaallah akan segera mendapatkan keturunan. Padatnya situasi yang harus dihadapi tersebut mengilustrasikan bahwa tidak ada waktu cukup lagi untuk “bernafas” apalagi “mencari lowongan pekerjaan”. Sementara, situasi-situasi tersebut sarat kebutuhan materi.

Pekerjaan mapan itu seperti apa? Pekerjaan mapan itu adalah pekerjaan yang usianya tidak hanya setahun, dua tahun, atau bahkan hanya durasi bulan. Mapan mengusung makna long time. Apakah harus bekerja sebagai pegawai negeri? Tidak. Bekerja di sektor swasta pun bisa dikatakan mapan dalam kasus ini. Namun, bekerja yang tetap bukan model kontrak berjangka waktu pendek. Bagaimana dengan pengusaha? Selama penghasilannya minimal ajeg (usaha sudah stabil) maka tidak masalah.

Apakah laki-laki yang belum bekerja tidak boleh menikah? Boleh saja. Anda yang beragama Islam tentu sudah mempelajari bahwa tidak ada larangan menikah sebelum bekerja. Hanya saja disarankan untuk bekerja/berpenghasilan terlebih dahulu.

Bagaimana dengan wanita? Wanita -bagi saya- tidak wajib bekerja apalagi bekerja full time. Sebab, wanita memiliki peran penting tak tergantikan: membesarkan putra-putri. Kesuksesan suatu pernikahan dinilai kelak ketika benih-benih yang dihasilkan (putra-putri) juga sukses menjadi pribadi yang matang dan mandiri. Kesuksesan karir dan glamour materi orang yang sudah menikah bukanlah lambang kesuksesan pernikahan mereka. Masih ada point penting yang harus dinilai: “Apakah putra-putrinya sukses?”.

Komposisi Pasangan Ideal

Komposisi pasangan ideal yang signifikan mempengaruhi kestabilan kehidupan pasca pernikahan adalah potensi yang terkandung dalam jiwa masing-masing. Pasangan dengan beda tinggi badan jauh? Tidak masalah. Wanita hitam sementara pasangannya putih? Selama mereka tidak mempermasalahkan tentu tidak masalah. Aspek fisik tidak terlalu berpengaruh terhadap kestabilan kehidupan pasca pernikahan. Syaratnya, aspek fisik tersebut telah sama-sama dimaklumi sejak sebelum menikah (masa penjajakan).

Aspek yang riskan mempengaruhi kestabilan kehidupan pasca pernikahan adalah aspek psikis. Aspek psikis bermuara dari berbagai hal: pendidikan, asal-usul keluarga, sifat, gaya hidup, dan sebagainya. Aspek ini tidak se-statis aspek fisik (tinggi badan, warna kulit, warna rambut, raut wajah, dan semacamnya). Aspek psikis dapat menciptakan suasana emosi berfluktuasi di kemudian hari.

Tingkat pendidikan laki-laki dan pasangannya selayaknya seimbang. Bukan setara. Setara adalah jika laki-laki berpendidikan master maka pasangannya juga master. Kondisi yang linked jika pendidikan seimbang. Laki-laki berpendidikan sarjana maka pasangannya SMA atau maksimal diploma. Laki-laki berpendidikan master maka pasangannya sarjana. Begitu seterusnya.

Ini bukan masalah emansipasi wanita. Toh tidak ada larangan bagi wanita untuk berpendidikan tinggi. Bahkan, tidak dilarang juga wanita yang sudah berkeluarga menuntut ilmu kembali. Tetapi sebaiknya pendidikan kepala keluarga tetap lebih tinggi. Filosofi yang dianut sederhana. Seorang kepala keluarga harus berwawasan luas dan berdikari memimpin!

Saya berikan gambaran nyata lain. Andai suatu keluarga didapati pendidikan istri lebih tinggi maka tidak tertutup kemungkinan istri akan lebih dahulu memegang posisi penting dalam karirnya. Posisi penting dalam karir berimbas pada kanal pendapatannya. Semakin strategis posisi karir maka semakin tebal pendapatannya. Suasana emosi suami akan berat ketika sang istri pada kenyataannya jauh lebih jago menjaring uang dan lebih kuat menopang perekonomian keluarga! Efek tersebut bisa jadi tidak hanya berakhir sampai di situ. Pihak ketiga bisa saja melakukan injeksi yang merendahkan suami tersebut.

Menikah dengan Sekedarnya

Konsep ini bagi sebagian orang berat bahkan dianggap tidak realistis. Menikah dengan sekedarnya adalah menikah yang bebas. Tidak semua pasangan di dunia ini keduanya atau salah satunya berasal dari kalangan berduit. Kadang berasal dari kalangan sederhana juga. Pernikahan sendiri tidak menghalangi orang tak beruang untuk menikah.

Menikah dengan sekedarnya itu seperti apa? Seorang/pasangan yang berasal dari kalangan beruang memiliki kesempatan untuk memilih kadar kedarnya. Bisa saja memilih pernikahan dengan biaya hajatan 200 juta rupiah, 100 juta rupiah, 1 milyar rupiah, atau 5 juta rupiah. “Sekedarnya” itu lebih condong berarti “bebas” tetapi tidak membebani. Seorang/pasangan yang penghasilan per bulan tidak lebih dari 2 juta rupiah -misalnya- tidak perlu mengharuskan pernikahan bernilai ratusan juta rupiah. Sebab, biaya yang muncul pada pernikahan hanyalah biaya sesaat. Pernikahan akan dibiayai banyak ataupun sedikit tidak berkorelasi positif dengan masa depan kehidupan pasca pernikahan. Pernikahan mahal tidak lantas menjamin kehidupan pasca pernikahan selalu berhasil. Begitu pula dengan pernikahan sederhana.

Bagaimana jika kadar kedar tersebut terbentur tradisi? Beberapa suku/ras memang masih memegang teguh “klasifikasi harga barang dagangannya”. Rekan saya -wanita- berasal dari suatu suku itu. Ia telah lulus pendidikan master, telah bekerja tetap di pemerintahan, dan telah dihadiahi mobil oleh orangtuanya. Rekan saya tersebut sampai usia menjelang kepala tiga belum mendapat gambaran siapa calon suaminya. Setiap laki-laki yang mendekat pasti mundur teratur begitu mengetahui riwayat rekan saya tersebut. Muara sumbernya satu: rekan saya tadi -menurut suku/rasnya- berharga lebih dari 500 juta rupiah. Artinya, setiap laki-laki yang berniat menikahinya harus menyediakan uang 500 juta rupiah sebagai maharnya (mungkin yang benar bukan disebut mahar, kalau Om e-k-o menyebutnya Jujuran untuk di Kalimantan). Lalu bagaimana?

Mari kembali pada konsep penjajakan pasangan. Bukan hal yang tidak mungkin bahwa suatu tradisi bisa ditengahi. Intensitas dan kedekatan komunikasi antara laki-laki dengan wanita yang akan dinikahinya sangat penting. Harapannya, ketika mereka memutuskan akan menikah maka pihak yang menerima mahar (biasanya wanita) dapat pro pasangan. Bukankah kalau pasangan sudah berkomitmen akan menikah pasti sudah saling pro (dukung)? Tidak selalu. Rekan saya dan pasangannya telah berniat menikah. Namun, pada banyak sektor pembicaraan strategis, sang wanita tidak pro dengan calon suaminya. Calon suaminya diperlakukan layaknya domba yang sedang digembala orangtua sang wanita. Jangan sampai seperti itu. Jika talenta saling dukung telah terbentuk maka ketika muncul permasalahan mereka dapat saling membantu. Jika ada permasalahan antara laki-laki dengan calon mertuanya maka sang anak wanita harus menjadi corong yang mendekatkan hati laki-laki kepada orangtuanya. Begitu sebaliknya.

Sekian bekal nikah dari saya. Jika saya dapat ilmu baru, insyaallah saya update tulisannya. Bagi yang hendak menambahkan, silakan. Semoga bermanfaat!

 BEKAL NIKAH Febrio Sapta Widyatmaka (241 Posts)

Febrio Sapta Widyatmaka adalah seorang periset geospasial, blogger, sekaligus pejalan birokrasi Indonesia. Hidup bahagia beristri seorang dokter hewan dan anak yang lucu nan pintar. :)

Website BEKAL NIKAHFacebook BEKAL NIKAHTwitter BEKAL NIKAHGoogle Plus BEKAL NIKAHLinkedin BEKAL NIKAHYahoo IM BEKAL NIKAH

Back Top

28 comments on “BEKAL NIKAH

  1. Galuh Ristyanto on said:

    Hwaaa bahasa mas’e tingkat pemerintahan. Pakai GBHN segala.
    Saya mah gak suka nyoba-nyoba dijalanin dulu. Kalau emang ada beberapa “aspek” yg emang berbeda, saya suka milih mundur.
    Bundaran HI tu Jakarta mana ya? (males buka google atau map). Bapak saya di Jakarta Selatan (Blok M). Siapa tau kalau saya ke Jakarta mungkin bisa mampir numpang makan, hwehehehehehe…..

    • febriosw on said:

      Wehehehehe. Mundurnya pakai spion kan, Mas?

      Bundaran HI di Jakarta Pusat. Kos sy di dekat situ. Tapi kantor di Blok M. Wah, berarti dekat dengan kantor Bapaknya Mas Galuh. Jangan-jangan Bapaknya Mas Galuh senior sy????

  2. Galuh Ristyanto on said:

    [manggut manggut] Bisa dijadikan saran buat saya neh. Saya suka bimbang mas kalau mau cari calon “istri”. Pas ngedeketinnya yg bikin bimbang karena beberapa aspek. Di atas udah disebutin.
    Kapan-kapan saya mau study to ke tempatnya mas Rio boleh to? Jangan lupa di”sugati” ya. Hohohohoho……..

    • febriosw on said:

      Kalau di pendekatan awal sudah ditemukan beberapa aspek prinsipal yang tidak sesuai dengan Garis Besar Haluan Negara-nya Mas Galuh, lebih baik cari calon lain saja. Jangan mencoba untuk mencoba. Artinya, jangan bilang begini: “Dicoba dulu ah, siapa tau nanti di perjalanan sy akan dapatkan pemakluman.”.

      Boleh main ke sini. Nanti sy ajak ke Bundaran HI. Kos sy kan ga jauh dari situ. Hehehehe.

  3. santo on said:

    lahir ki siap secara fisik..duit ki sedikit lahir..ihihihi

  4. santo on said:

    “Satu point yang sebaiknya diingat bahwa penjajakan yang baik adalah penjajakan yang tidak meninggalkan jejak. Silakan ditafsirkan makna “jejak” tersebut.”

    wah cocik tenan mas, ane suka yang itu, era seperti sekarang ini yang serba modern, ingin nya yang instan instan saja tidak memperhatikan masa depan,pergaulanku juga lumayan lah karena sudah 7 tahun dijogja, tau sendiri pacaran jaman sekarang..

    saya juga uda pacaran 4th lebih, jejak yang saya tinggalkan cukup di hatinya saja, tidak jejak fisik yang membuat wanita jadi berkurang harganya..
    yang jadi motivasi untuk tidak meninggalkan jejak hanya karena jika saya sudah tidak ada apakah pacar saya masih berharga untuk calonnya kelak..

    untuk masalah nikah sekarang pun lahir batin siap…hanya saja materi belum siap

    • febriosw on said:

      Terimakasih Mas telah sepakat dengan ide tulisannya. :)

      “untuk masalah nikah sekarang pun lahir batin siap…hanya saja materi belum siap”
      Trus makna lahir tersebut apanya, Mas? Hehehehe.

  5. andank on said:

    saya belom mau nikah hehehe, tapi ini bisa jadi pembelajaran saya hehe “cantik itu relatif” kata itu yang saya sukai

  6. harfika on said:

    huaaa boy mau aq share ke calon q ah biar kami smakin mantab!
    bagus,,bagus,,, tulisannya,,,,

    laik this,,,,, *kemakan iklan*

  7. Photrot on said:

    hemm, menarik. dari sekian artikel yang bagus2 disini yang saya baca sampe tuntas cuma yang ini. banyak informasi yang bermanfaat. (kunjungan balik dari blog kalayan. thanks

  8. andre on said:

    bekal yang bagus banget nih. makasi mas. ceritanya ini untuk yang mau nikah atau untuk yang bikin tulisan ini :D

    • febriosw on said:

      Yang bikin tulisan udah nikah dan udah punya anak malah. Jadi tulisannya buat yang mau menikah saja. :) Terimakasih Mas Andre.

  9. felix yanuar on said:

    sungguh selalu meberikan motivasi positif ketika membaca tulisan-tulisan dari Anda mas Febrio. sangat bermanfaat dan bisa dicoba ni. fufufu…

  10. areximut on said:

    wakakakakak… yang itu tuh nemu pas jalan mas, kelihatannya cocok langsung deh disikat :-) (tapi jangan bilang2 ke yang lain ya ckikikikkk) ya…kali aja mau nikah beneran ha ha

  11. areximut on said:

    wah ini yang bikin semangat buat nikah para pasangan itu, ha ha ayo siapa yang mau sama saya? << keliatan kalau ndak laku wkwkwkwkkkkk Mantab mas artikelnya

    • febriosw on said:

      Nikah sama yang Mas sebut areximut itu aja, Mas. Kayanya Mas Ari cinta banget ma dia. :D Terimakasih, Mas.

  12. diyah ky on said:

    pastinya dunk.. aku cantumin URL nya :D

  13. diyah ky on said:

    suka banget sama tulisanmu yg ini. jadi pingin curhaaaat deh rio :) izin share di fb boleh ga ?

  14. e-k-o on said:

    Beberapa rekan juga rela study tour ke kos saya sekedar sharing apakah mereka sudah layak menikah.

    hahaha.., lucu. bagus sekali diksi/pilihan katanya :)

    Setiap laki-laki yang mendekat pasti mundur teratur begitu mengetahui riwayat rekan saya tersebut. Muara sumbernya satu: rekan saya tadi -menurut suku/rasnya- berharga lebih dari 500 juta rupiah. Artinya, setiap laki-laki yang berniat menikahinya harus menyediakan uang 500 juta rupiah sebagai maharnya.

    setahu saya, kalau di daerah Kalsel (mungkin jg Kaltim, dan Kalimantan pada umumnya), ini disebut “jujuran” (maaf kalau salah. ps: ini bukan ‘jujur” dlm arti tidak bohong). ini tentu saja menimbulkan citra negatif, setidaknya menurut penilaian saya, dan menempatkan wanita seolah-olah sebagai (maaf) barang dangangan. padahal mahar, sejatinya, adalah pemberian semampunya, sesuai kemampuan si pemberi/calon suami.

    Laki-laki Sebaiknya Memiliki Pekerjaan Mapan

    hmm.., kalau pekerjaan yang WAH (write at home, aka penulis buku) itu termasuk mapan ndak sih..? hehehe :)

    Jajaki Pasangan Sebelum Memutuskan Lanjut

    iya betul, penjajakan itu perlu, ibarat survei, tp sebaiknya jgn terlalu lama.

    Andai suatu keluarga didapati pendidikan istri lebih tinggi maka tidak tertutup kemungkinan istri akan lebih dahulu memegang posisi penting dalam karirnya. Posisi penting dalam karir berimbas pada kanal pendapatannya. Semakin strategis posisi karir maka semakin tebal pendapatannya. Suasana emosi suami akan berat ketika sang istri pada kenyataannya jauh lebih jago menjaring uang dan lebih kuat menopang perekonomian keluarga! Efek tersebut bisa jadi tidak hanya berakhir sampai di situ. Pihak ketiga bisa saja melakukan injeksi yang merendahkan suami tersebut.

    analisa yang bagus. betul sekali. fenomena ini sering saya lihat. mirip seperti potongan kisah dalam film LARRY CROWNE (2011. cek: http://www.imdb.com/title/tt1583420/). Mercedes Tainot (Julia Roberts) mengajar di sebuah universitas, sementara suaminya selalu sibuk di depan komputer. Sang suami mengaku sibuk menulis, tapi ternyata asyik dengan gambar2 porno. :)

    Sekian bekal nikah dari saya…
    membaca ini, sy jadi teringat pak penghulu yg selesai memberi nasihat perkawinan buat kedua mempelai. atau, saya membayangkan pak penghulu memberi nasihat di hadapan para peserta kawin massal :)

    btw. tulisan yang bagus dan menarik mas. very inspiring :) good job.
    oiya, alamat email mas febri apa? tks

    • febriosw on said:

      Wah dapat kosakata istilah baru nih. Sy update, Om. Mungkin di sana juga Jujuran namanya.

      Penulis buku selama mendatangkan uang yang bisa untuk menghidupi keluarga, why not?

      Conclusion: Terimakasih banyak Om Eko atas sharing-nya. Alamat email sy febriosw [at] yahoo [dot] co [dot] id. Oia, koq Om Eko tidak pernah meninggalkan URL-nya?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

5,561 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] kaskus emoticons nartzco

View in: Mobile | Standard