Tulisan ini terinspirasi dari headline berita Sukhoi Superjet 100 sore tadi yang topiknya mengarah ke pendugaan adanya pembajakan pada joy flight Sukhoi Superjet 100 di Indonesia. Sejauh yang saya pahami tentang karakter radar dan pesawat, saya menyangkal pendugaan pembajakan tersebut. Tidak mungkin pesawat tersebut hilang dari pantauan radar karena suatu aksi pembajakan!
Radar adalah nama ringkas dari Radio Detection and Ranging. Seperti tergambar dari namanya, teknologi ini memanfaatkan gelombang radio (dan perluasannya) dan menggunakan strategi ranging (pengukuran jarak). Radar dipancarkan oleh suatu transmitter dan ditangkap oleh receiver. Nah, radar akan memiliki arti ketika transmitter dan receiver tersebut “bersinkronisasi”. Transmitter dan receiver harus dikelola oleh titik yang sama. Misalkan saya ingin membuat benteng pertahanan dengan memanfaatkan radar sebagai alat pendeteksi pergerakan musuh di sekitar benteng saya. Transmitter akan saya tempatkan di benteng saya, begitu pula dengan receiver-nya. Bahkan, saking padunya kedua alat tersebut, keduanya bagai dwi tunggal. Secara fisik yang terlihat hanyalah sebuah benda. Namun, fungsinya ada dua, yaitu sebagai transmitter dan receiver.
Ilustrasi sekilas tentang radar tersebut semoga dapat memberi tambahan gambaran bahwa kedigdayaan radar tidak tergantung pada suatu konvensi (pihak operator radar dengan pihak yang dipantau radar). Transmitter dan receiver radar ditempatkan di bandar udara. Pesawat di sekitar bandar udara (dalam jangkauan radar tersebut) akan secara otomatis tertangkap keberadaannya oleh radar tanpa harus menunggu ijin dari pilot seperti “Ya, silakan pesawat saya dipantau dengan radar.”. Mau diijinkan ataupun tidak, radar tidak peduli. Meskipun, ada kondisi tertentu yang membuat pesawat hilang dari pantauan radar (nanti akan saya bahas).
Berdasarkan uraian yang semakin panjang tadi maka dapat disimpulkan bahwa tidaklah mungkin Sukhoi Superjet 100 hilang dari pantauan radar karena dibajak. Sebab, yang dideteksi radar adalah fisik (body) dari pesawat itu. Bukan sinyal-sinyal yang dipancarkan oleh pesawat!
Mengapa Pesawat Hilang dari Pantauan Radar?
Secara umum, pesawat dapat hilang dari pantauan radar dikarenakan beberapa hal berikut:
- Pesawat berada di luar jangkauan radar.
- Pesawat memiliki desain anti-radar.
- Pesawat terbuat dari bahan yang tidak dikenali radar.
Pesawat berada di luar jangkauan radar pun kondisi teoritisnya bermacam-macam. Pertama, pesawat tersebut benar-benar (murni) berada di luar jangkauan radar. Bisa saja pesawat tersebut pada jarak tertentu (dari transmitter dan receiver) terbang di bawah jaring pantauan radar atau terlalu jauh dari zona liputan radar (Gambar 1).
Kondisi kedua, pesawat tersebut masuk pada jangkauan radar tetapi ada fitur lain yaitu obyek lain yang menghalangi, misalnya gunung (Gambar 2).
Pesawat juga dapat hilang dari pantauan radar ketika didesain anti-radar. Bagaimana desain pesawat anti-radar? Desain pesawat anti-radar salah satunya dengan meminimalkan lekukan body (terutama body bawah pesawat). Body pesawat yang mendekati flat (datar) membuat gelombang radar yang dipancarkan transmitter terpantul ke arah yang menjauhi transmitter. Gelombang yang tidak terpantul balik seperti itu tidak dapat ditangkap receiver. Jejak pesawat pun tidak tertangkap radar. Bagaimana dengan body pesawat sipil? Anda tentu sepakat dengan saya bahwa body pesawat sipil jauh dari model ini. Dan sepertinya tidak mungkin suatu pabrikan menciptakan pesawat sipil yang berdesain anti-radar. Sebab, radar memiliki fungsi kendali keselamatan. Bayangkan jika pesawat sipil didesain anti-radar. Dia terbang kemana pun, Otoritas Penerbangan tidak mengetahuinya.
Pesawat dapat juga lolos dari pantauan radar jika berbahan (body) khusus yang tidak dikenali radar. Misalkan radar untuk penerbangan biasanya menggunakan gelombang yang peka terhadap logam. Supaya pesawat tidak terdeteksi radar dapat saja dibuat dari bahan non-logam seperti plastik.
Semoga uraian tersebut menambah pengetahuan pembaca yang masih awam dengan dunia penerbangan khususnya pengkaitan antara radar dengan pesawat. Andai wartawan memiliki pengetahuan tersebut tentu berita yang miring tidak tampil di headline media massa nasional.





GooglePlus
Twitter
LinkedIn