Harian Pribadi FEBRIOSW

Peminat hal sosial, politik "kekacauan", dan universalitas.

February 22nd, 2012

KELUARGA ADALAH PENENTRAM

1 Comment, Catatan, Opini, Refleksi, by febriosw.

Saya sangat terkesan dengan pernyataan Sudjiwo Tedjo tadi malam (21/02/2012) di Indonesia Lawyers Club. Beliau menanggapi situasi yang menimpa Nazaruddin dengan untaian kalimat kurang lebih seperti ini: “Jika anak istrinya saja tidak diketahui bagaimana keadaannya, bagaimana pakar hukum menjamin bahwa setiap keterangan yang disampaikan Nazar di persidangan adalah sesuatu yang sebenarnya.”. Pesan berbudaya yang disampaikan Budayawan tersebut mengingatkan saya pada kisah studi banding beberapa tahun lalu di beberapa lembaga negara.

Keluarga adalah penentram. Konsep tersebut tersurat pada pernyataan Sudjiwo Tedjo tersebut. Seseorang (kepala keluarga) akan menemukan ketentraman ketika ia berada pada kerumunan keluarganya. Ketentraman tersebut berimbas banyak pada sisi kehidupan suami tersebut lengkap dengan keluarganya. Ide-ide kreatif, semangat, pemikiran tajam, dan pisau kinerja akan sangat berkilau ketika suami dilingkupi keluarganya. Ajaran kerohanian pun menempatkan keluarga sebagai penentram. Namun, di suatu lembaga pemerintah masih ada pola organisasi yang mengabaikan konsep tersebut.

Beberapa lembaga pemerintah secara tak tertulis berkomitmen mendekatkan pegawainya dengan keluarga. Peraturan yang menjabarkan bahwa seorang pasangan suami-istri berhak ditempatkan di daerah yang sama pun memang sepertinya belum ada. Saya pantau di media Badan Kepegawaian Negara juga belum ada. Namun, inisiatif pimpinan lembaga untuk memenuhi kebutuhan hidup (jasmani dan rohani) pegawainya membuat tatanan organisasi di beberapa lembaga pemerintah tersebut peka situasi. Seorang pegawai dapat dengan mudah dipindah daerah jika memang menginginkan bekerja tak jauh dari keluarga.

Satu lembaga pemerintah yang termasuk dalam lingkup studi banding tidak memiliki inisiatif dimaksud. Alasannya sungguh negarawan: “Kita adalah rakyat Indonesia Raya”. Alasan tersebut menggerakkan komponen-komponen inti organisasi tersebut untuk tutup mata bahwa seorang manusia berkebutuhan kumpul dengan keluarganya. Seorang pegawai sering hingga puluhan tahun harus berpuasa tak bertemu keluarganya.

Fakta kinerja tidak dijadikan pertimbangan untuk menyusul percepatan reformasi birokrasi lembaga pemerintah lainnya. Lembaga satu ini tercatat memiliki kinerja lamban dan kaku. Hal tersebut wajar jika ditilik dari personal-personal yang mengisi lembaga tersebut sebenarnya tidak semuanya merasakan ketentraman. Mari kita berilustrasi. Seorang suami ditempatkan di ujung Timur Indonesia. Sedangkan istrinya di ujung Barat Indonesia. Istri tidak dapat mengikuti suami karena suatu hal. Situasi istri mungkin saja adalah PNS Daerah, sedang menunggui anak yang sekolah pada level penting (prestasi rentan negatif jika berpindah-pindah tempat sekolah), dan sebagainya. Suami yang sebagai PNS Pusat tentu sebenarnya memiliki kans yang lebih luas untuk mutasi daerah. Namun, kenyataannya tidak. Usulan untuk pindah daerah selalu ditolak. Naasnya lagi (ini pernyataan resmi) seorang pegawai juga tidak diperkenankan pindah instansi. Artinya, pada kasus tadi jika sang suami ingin berkumpul dengan keluarganya maka pilihannya hanya satu: keluar dari PNS!

Kebesaran hati berbudaya untuk mempedulikan orang lain -seperti yang ditunjukkan Sudjiwo Tedjo- semestinya dirangkai dalam suatu kebijakan untuk menjamin bahwa setiap PNS di negeri ini terpenuhi hak-haknya. Berkumpul dengan keluarga itu adalah hak bahkan tergolong kebutuhan. Catatan “ilegal” di satu lembaga pemerintah tadi perlu dijadikan pijakan. Banyak kasus cerai yang menimpa pegawainya dan banyak kasus selingkuh antar pegawai yang menimpa institusinya. Tanpa suatu kebijakan dari lembaga koordinator (Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi serta Kementerian Hukum dan HAM) maka rentan terjadi malkebijakan sektoral yang dilakukan pimpinan lembaga pemerintah khususnya pimpinan yang tak memiliki inisiatif berbudaya.

twitter KELUARGA ADALAH PENENTRAMemail KELUARGA ADALAH PENENTRAM

February 21st, 2012

PROFESOR ADALAH …

10 Comments, Catatan, Refleksi, Tips, by febriosw.

Numpang trenyuh Gan… bolakbalik PROFESOR ADALAH ...

Beberapa lulusan perguruan tinggi ternama dengan ringannya menyebut: “Pak A itu Profesor kan? Dia kan sudah lulus S3.”. Pertanyaan dan jawaban yang mereka rangkai tersebut membuat saya trenyuh. Jangan-jangan banyak orang pula tidak peduli dengan istilah Profesor meskipun sering berinteraksi dengan Profesor. Paling tidak, ketika kuliah pernah bertemu dengan Profesor.

Profesor bukan gelar akademik! Profesor atau guru besar adalah jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan satuan pendidikan tinggi (UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen). Apakah sebutan Profesor tidak berafiliasi dengan sekolah S3? Jabatan Profesor memang berkaitan dengan sekolah S3. UU tersebut pada Pasal 48 secara jelas mengurai bahwa persyaratan untuk menduduki jabatan akademik Profesor harus memiliki kualifikasi akademik doktor. Namun, bukan berarti kalau seseorang sudah sekolah S3 dan lulus maka akan mendapatkan sebutan Profesor di depan namanya. Gelar yang didapat setelah menyelesaikan sekolah S3 adalah doktor (Dr atau Ph.D).

Syarat lain untuk diangkat menjadi Profesor adalah mengumpulkan angka kredit minimal yang ditetapkan, DP3 sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 1 tahun terakhir, dan mendapat persetujuan senat Perguruan Tinggi dan mempunyai kemampuan membimbing calon doktor. Pembuktian bahwa seorang dosen telah membimbing calon doktor salah satunya adalah pernah menulis karya ilmiah (sebagai penulis utama/tunggal) di bidangnya dan diterbitkan pada jurnal yang terakreditasi DIKTI.

Nah, di Indonesia masih ada satu macam Profesor lagi: Profesor Riset. Induk Profesor Riset adalah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Sedangkan induk Profesor (akademik) adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Semoga uraian singkat ini memiliki andil meluruskan perspektif tentang Profesor yang masih mengambang.

twitter PROFESOR ADALAH ...email PROFESOR ADALAH ...

February 19th, 2012

19 FEBRUARI LINTAS MASA

21 Comments, Catatan, Ucapan, Wedding, by febriosw.

Sembilan belas Februari adalah salah satu hari spesial dalam hidup saya. Sembilan belas Februari pada beberapa tahun meninggalkan kesan yang luar biasa. Kesan-kesan serius sampai kesan konyol ketika memulai kehidupan baru dengan wanita pilihan saya. Bagi Anda yang memiliki waktu lebih silakan lanjutkan membaca. Bagi yang jadwalnya padat, silakan memutuskan. icon smile 19 FEBRUARI LINTAS MASA

19 Februari 2011 saya menikahi drh. Wilis Ariyana Septi

19 Februari 2010 hari saya wisuda sarjana

19 Februari 2005 saya ikut simulasi Ujian Masuk UGM

[Simulasi Ujian Masuk UGM]
Saya ingat bahwa tanggal 19 Februari sekitar 7 tahun lalu saya ikut simulasi Ujian Masuk UGM. Ingatan saya tersebut dibantu oleh selembar brosur Lembaga Pendidikan Primagama yang tertumpuk dalam arsip di meja belajar saya. Primagama adalah penyelenggara simulasi Ujian Masuk UGM kala itu. Ada kisah menarik dari simulasi tersebut. Kisah tersebut ikut mengarahkan hidup saya sekarang.

Saya mendapatkan rincian program studi yang diselenggarakan UGM setelah ujian simulasi tersebut selesai. Daftar program studi tersebut kemudian saya bawa pulang. Sesampainya di rumah, saya konsultasi dengan paman tentang program studi yang tercantum banyak di selembar kertas mirip buram tersebut. Saya memilih berkonsultasi dengan paman karena beliau adalah salah satu orang terdekat yang saya kategorikan sukses berkarir. Beliau kala itu masih aktif di BAPPEDA Provinsi Jawa Tengah.

Saya ingat betul paman melingkari beberapa program studi lengkap beserta nomor urutan prioritasnya. Saya protes waktu itu. Kenapa program studi yang tidak pernah saya dengar malah diberi nomor teratas. Program-program studi yang sedang panas-panasnya diincar orang malah diberi angka belakang.

“Kenapa malah Kartografi dan Penginderaan Jauh yang diberi nomor urut pertama?”, protes saya. Saya tak habis pikir. Paman saja lulusan Pertanian. Kenapa paman memilihkan program studi yang jauh dari kehidupannya. Begitu pikir saya.

“Program studi ini prospektif! Pakde -begitu beliau memanggil dirinya sendiri- kalau ada proyek selalu bekerja dengan orang-orang dari program studi ini. Mereka menguasai pekerjaan dan medan.”, papar paman dengan singkat, padat, dan tegas.

Kini, saya merasakan apa yang dipilih paman. Kata-kata bahwa program studi tersebut prospektif telah mengantarkan saya pada banyak pengalaman. Satu hal yang harus selalu disyukuri, program studi tersebut membuka banyak kesempatan untuk mendapatkan materi. Hehehe. Materialistik mode ON.

[Wisuda Sarjana]
Akhirnya saya kuliah di program studi Kartografi dan Penginderaan Jauh. Hitungan masa studinya pun terbilang tidak wajar untuk spesialisasi yang saya ambil. Kuliah di program studi itu biasanya lama. Saya tidak bohong. Dan ada momok pada program studi tersebut: penginderaan jauh radar. Penginderaan jauh dapat dipahami mengindera sesuatu (bumi) dari jauh (angkasa). Obyek yang diindera terlebih dahulu direkam membentuk gambar (foto udara/citra satelit). Anda tentu terbiasa mengamati gambar dengan mata. Iya kan? Hal yang sama juga terjadi pada interpreter (sebutan analis foto udara/citra satelit). Mereka juga terbiasa melihat menggunakan kemampuan mata. Nah, radar itu berbeda konsep meskipun tetap dalam konteks penginderaan jauh.

Radar adalah kependekan dari Radio Detection and Ranging. Apa yang ditangkap dari kata tersebut? Radio! Penginderaan jauh radar mengindera obyek tidak dengan gelombang yang di-familiar-i mata manusia. Penginderaan jauh radar mengindera menggunakan gelombang radio/gelombang suara. Silakan dibayangkan bagaimana cara melihat sesuatu dengan gelombang seperti itu. Atau silakan dibayangkan apakah bisa melihat sesuatu menggunakan telinga? Hal-hal yang “sulit” diterima angan-angan tersebut lah yang membuat penginderaan jauh radar momok. Silakan bongkar arsip penelitian/skripsi/tesis/disertasi di fakultas saya. Kalau perlu, bongkar semua arsip di universitas atau lembaga-lembaga yang menaungi praktisi/profesional bidang penginderaan jauh. Saya yakin Anda tidak akan menemukan banyak referensi/hasil. Sedikit sekali yang mendalami penginderaan jauh radar di Indonesia. Padahal, penginderaan jauh radar adalah sistem yang cocok untuk daerah tropik (sering ada awan).

Saya tidak pernah peduli dengan masukan rekan kuliah bahwa pilihan saya meneliti radar adalah pilihan bunuh diri. Saya tidak peduli dengan riwayat senior yang terkatung-katung penelitiannya karena kehabisan energi. Saya yakin saya bisa menyelesaikan pilihan saya. Dan saya penuhi keyakinan tersebut. September 2009 saya mengajukan skripsi lewat seminar terbuka. Januari 2010 skripsi saya telah ditandatangani 4 dosen penguji. Di angkatan saya, saya lulus urutan kelima. More

twitter 19 FEBRUARI LINTAS MASAemail 19 FEBRUARI LINTAS MASA

View in: Mobile | Standard